KAJIAN PEDAGANG KAKI LIMA DI TAMAN TEGALEGA, BANDUNG, JAWA BARAT

Irwan Sudarisman

Sari


Fenomena pedagang kaki lima telah ada di Indonesia sejak lama hingga sekarang dan permasalahan-permasalahan yang diakibatkan oleh aktivitasnya masih belum mendapatkan solusi yang tepat. Pemerintah mencoba menerapkan beberapa solusi namun belum mampu menyelesaikan permasalahan dengan baik, ditandai dengan kembalinya pedagang kaki lima ke lokasi awal, tindakan demonstrasi dan anarkis. Taman Tegalega berlokasi di jalan Peta, kota Bandung, Jawa Barat, Indonesia memiliki arti penting bagi warga kota Bandung. Khususnya bagi warga kota yang tinggal di kawasan bagian Selatan, taman ini memiliki ikatan emosional dan historis yang kuat. Sebagai sebuah ruang publik, Taman Tegalega tidak lepas dari permasalahan kehadiran pedagang kaki lima baik di luar maupun di dalam taman. Taman Tegalega dibangun sejak jaman penjajahan Belanda dan bertahan hingga kini telah beberapa kali mengalami renovasi, selama itu pula pedagang kaki lima beserta segala persoalan yang diakibatkannya tidak terselesaikan bahkan cenderung bertambah kompleks. Berdasarkan kajian terhadap pedagang kaki lima dari waktu ke waktu dapat diambil kesimpulan bahwa pedagang kaki lima telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari Taman Tegalega. Masyarakat menjadikan kehadiran pedagang kaki lima selain sebagai sarana memenuhi kebutuhan sehari-hari, juga sebagai sarana berekreasi. Selain itu, pedagang kaki lima memiliki tingkat adaptasi yang tinggi terhadap beragam perubahan yang memaksanya untuk menyesuaikan diri.

Kata Kunci


pedagang; taman; pemerintah; kebijakan; karakter; adaptasi

Teks Lengkap:

PDF (English)


DOI: https://doi.org/10.32502/arsir.v1i2.867

Refbacks

  • Saat ini tidak ada refbacks.


Indexed by:

   

Arsir : Jurnal Arsitektur is lisenced under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.

 
View My Stats