Hubungan Curah Hujan, Suhu, Kelembaban dengan Kasus Demam Berdarah Dengue di Kota Semarang

Aisyah Lahdji, Bima Bayu Putra

Abstract


DBD merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat yang terjadi di Indonesia, khususnya Kota Semarang. Angka kejadian DBD di Kota Semarang menduduki urutan pertama di Jawa Tengah pada Tahun 2014 sejumlah 11.081 kasus. Munculnya angka tersebut dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti curah hujan, suhu dan kelembaban. Penelitian ini bertujuan mengetahui hubungan antara curah hujan, suhu dan kelembaban dengan jumlah kasus DBD di Kota Semarang. Penelitian deskriptif analitik secara retrospektif dengan rancangan cross sectional ini diambil dari data jumlah kasus DBD di Kota Semarang periode Januari 2006 – Desember 2015 dengan variabel terikat adalah jumlah kasus DBD dan variabel bebas adalah curah hujan, suhu dan kelembaban. Data dianalisis menggunakan uji korelasi Rho Spearman dan uji regresi binary logistic. Hasil penelitian didapatkan data rata-rata curah hujan 195,400 ±165,800 mm, suhu 27,800 ±0,8000C, kelembaban 76,700 ±7,600%, jumlah kasus DBD 231,200 ±197,500 kasus. Hasil korelasi Rho Spearman antara jumlah kasus DBD dengan curah hujan r=0,438 (p=0,000); suhu udara r=-0,249 (p=0,006), dan kelembaban udara r=0,548 (p=0,000). Secara multivariat hanya kelembaban udara yang terbukti berpengaruh signifikan terhadap jumlah kasus DBD di Kota Semarang.

Keywords


DBD, curah hujan, suhu, kelembaban udara

Full Text:

PDF

References


World Health Organitazion (WHO). 2016. Dengue And Severe Dengue. http://www.who.int/research diakses pada 28 maret 2016. 2. Pusat Data dan Surveilans Epidemiologi Kementrian Kesehatan Republik Indonesia. 2010. Buletin Jendela Epidemiologi Demam Berdarah Dengue Volume 2. Jakarta: Kementrian Kesehatan Republik Indonesi. http://www.depkes.go.id diakses pada 29 juni 2016.

Departemen Kesehatan RI. 2014. Profil Kesehatan Indonesia. http://www.depkes.go.id diakses pada 29 juni 2016.

Ariati J, Musadad DA. 2012. Kejadian demam berdarah dengue (DBD) dan faktor iklim di Kota Batam, Provinsi Kepulauan Riau. Jurnal Ekologi Kesehatan;11(4 Des):279-86.

Lakitan B. 2002. Dasar-dasar klimatologi. Raja Grafindo Persada : Jakarta

Dini AMV, Fitriany N, Wulandari RA. 2010. Faktor Iklim dan Angka Insiden Demam Berdarah Dengue di Kabupaten Serang. Makara Kesehatan;14(1):31-8.

Watts DM, Burke DS, Harrison BA, Whitmire RE, Nisalak A. 1986. Effect of temperature on the vector efficiency of Aedes aegypti for dengue 2 virus. DTIC Document

Sari P. 2012. Hubungan Kepadatan Jentik Aedes sp dan Praktik PSN dengan Kejadian DBD di Sekolah Dasar di Kota Semarang, Skripsi, https://core.ac.uk/download/pdf/11736618.pdf, diakses pada 14 September 2016.

Cahyati WH. 2006. Dinamika Aedes Aegypti sebagai Vektor Penyakit, Kemas,Volume II, No 1, 40-50.

Mangguang MD. 2012. Analisis Epidemologi Penyakit Demam Berdarah Dengue melalui Pendekatan Spasial Temporal dan Hubungannya degan Faktor Iklim di Kota Padang Tahun 2008-2010, http://dinus.ac.id/wbsc/assets/dokumen/prosiding/FIKI_Masrizal_Dt_Mangguang.pdf, diakses pada 14 September 2015.

Zubaidah T. 2012. Climate change impact on dengue haemorrhagic fever in Banjarbaru South Kalimantan between 2005-2010, Jurnal Epidemiologi dan Penyakit Bersumber Binatang, Vol. 4, No. 2, 59-65.




DOI: https://doi.org/10.32502/sm.v8i1.1359

DOI (PDF): https://doi.org/10.32502/sm.v8i1.1359.g1197

Refbacks

  • There are currently no refbacks.